Members

Orientasi dan Strategi Pengembangan PAI di PTU

Orientasi dan Strategi Pengembangan Matakuliah Pendidikan Agama Islam
di Perguruan Tinggi Umum

Oleh : M. Subky Hasby, M.Ag.

Jika kita membuka mata lebar-lebar, memperhatikan dan merenungkan keadaan negeri kita tercinta, Indonesia, maka kita akan merasakan bahwa bangsa kita saat ini berada pada posisi sangat genting, di antara dua tempat, tebing curam yang penuh batu karang tajam dan sebuah ladang rumput yang subur nan hijau. Tahun-tahun, bulan-bulan, bahkan hari-hari ini, kita akan melihat dan bertanya apakah bangsa ini sudah berada di ambang kehancuran atau akan memulai kembali masa kebangkitan. Semuanya ditentukan oleh pilihan apa yang kita ambil mulai saat ini.

Ketika menentukan pilihan ini, barangkali kita harus mengingat ungkapan seorang penyair, Syauqi Bek “Kejayaan bangsa-bangsa hanya dapat bertahan selama ada akhlaq. Jika mereka sudah kehilangan akhlaq, maka kejayaan mereka pun akan sirna. Pilihannya adalah apakah bangsa kita mau mempertahankan akhlaq atau akan mengabaikannya. Firman Allah SWT sangat jelas menggambarkan tentang pilihan ini “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rejekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi mereka (penduduknya) mengingkari ni‘mat-ni‘mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. 16 112).

 

A. Pendahuluan

Kita tidak menyangkal bahwa keterpurukan suatu bangsa bisa disebabkan oleh banyak faktor. Paling tidak ada lima faktor yang dapat mempengaruhi dan saling mempengaruhi dalam satu kesatuan sistem global yang bersifat mondial. Kelima hal itu adalah sistem ideologi, sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial budaya dan sistem iptek. Tetapi dari kelima sistem tersebut, sistem ideologi adalah yang paling mendasar dalam melahirkan pandangan dunia (worldview, Weltanschauung) suatu bangsa. Kalau kita mencermati lebih jeli lagi, meskipun kita mencantumkan secara formal bahwa ideologi negara kita adalah Pancasila, tetapi pada kenyataannya ideologi bangsa kita bukanlah Pancasila, bahkan bukan pula ideologi Islam, meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Oleh karenanya paradigma kitapun tentu saja bukan pula paradigma Pancasila atau Islam.

Ideologi harus dibangun melalui pendidikan, selanjutnya pendidikan harus dibangun di atas dasar-dasar akhlaq. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan yang benar, terus menerus dan berkesinambungan. Karena, jika tanpa pendidikan, maka kita akan menjalani hidup ini laksana orang buta, maju dengan sangat lambat karena harus meraba-raba. Namun, jika mendapatkan pendidikan yang salah, maka kita menjalani hidup dengan membabi-buta, melaju dengan kencang tapi tidak terarah dan terkendali.

Pendidikan tidak hanya bersifat transfer of knowledge, tetapi lebih dari itu adalah transform of value. Bukan hanya mencetak ilmuan, tetapi juga cendekiawan. Untuk bisa mencapai maksud itu kita harus membangun dan mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis akhlaq. Akhlaq adalah sebuah sistem nilai dalam Islam. Bahwa hakikat beragama adalah bagaimana seseorang bisa menampilkan akhlaq yang mulia diungkapkan secara tegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “al-din husn al-khuluq” dan Mu’min yang paling utama adalah yang paling baik akhlaqnya, “afdlal al-mu‘minin imanan ahsanuhum khuluqan”.

Problem besar dan mendasar yang kita hadapi sekarang adalah: pertama, kita belum membangun sistem pendidikan yang benar dan berbasis akhlaq. Jelas kita telah menerapkan sebuah sistem pendidikan yang nyata-nyata agak jauh dari tujuan pendidikan nasional kita sendiri, yang dimuat dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kedua sistem pendidikan tidak dapat mempengaruhi sistem-sistem lainnya, seperti politik, ekonomi dan sosial budaya, bahkan sebaliknya dipengaruhi secara kuat oleh ketiga sistem tersebut. Hal ini disebabkan karena orientasi dan strategi pengembangan sistem pendidikan yang tidak mendukung dan searah dengan tujuan membentuk manusia seutuhnya, seperti pada UU tersebut di atas.

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana cara kita memberikan pendidikan yang berbasis akhlaq tersebut kepada peserta didik kita, khususnya mahasiswa Universitas Brawijaya yang memang dipersiapkan untuk menjadi tenaga-tenaga ahli yang akan mengisi berbagai lapangan kerja dan menjadi agen-agen penentu perubahan di tingkat lokal maupun nasional. Inilah yang menjadi fokus dalam tulisan ini.

B.   Reorientasi dan Revisi Strategi Pendidikan Agama

Untuk bisa menjadi bangsa yang besar, pertama-tama kita harus memiliki ideologi yang kuat dan mantap. Ideologi tidak boleh hanya difahami sebagai wacana atau konsep pemikiran belaka, tetapi betul-betul harus dianut dan dijadikan sebagai pandangan hidup, yang mempolakan seluruh perasaan, pikiran, sikap dan tindakan kita.

Ketika kita mengalami kelemahan ideologi ini, maka akibatnya sangat fatal, karena sistem ideologi lain akan mudah juga masuk untuk mempengaruhi dan menguasai seluruh sistem kehidupan kita. Sistem ideologi yang kuat dapat mempengaruhi dan mengendalikan sistem-sistem politik, ekonomi, sosial budaya dan iptek. Sistem ideologi ini dalam Islam adalah aqidah, yang menjadi dasar dan fondasi bagi keseluruhan struktur atau bangunan keislaman, baik individu maupun umat.

Perjuangan Rasulullah SAW di Makkah memberikan contoh yang sangat jelas bagi kita tentang pembangunan ideologi ini sebelum yang lain-lainnya. Selama lebih kurang 13 tahun dakwah beliau di kota Makkah, yang dilakukan adalah konsolidasi keimanan (aqidah), membangun kekuatan mental dan militansi pengikut beliau. Yang dibangun adalah kualitas bukan kuantitas, sehingga meskipun beliau hanya memperoleh sangat sedikit pengikut tetapi mereka adalah orang-orang yang betul-betul mempunyai aqidah dengan api Islam yang berkobar-kobar di dada mereka. Beliau merubah sama sekali ideologi jahiliyah menjadi ideologi islamiyah, dari syirk menjadi iman, ‘ashabiyah menjadi ukhuwah, ‘adawah menjadi rahmah, zhulmah menjadi ‘adalah dan seterusnya.

Membangun ideologi atau aqidah yang benar apalagi sebagai sebuah sistem yang mapan bukanlah pekerjaan gampang. Perjuangan Rasulullah SAW di atas memperlihatkan bahwa pembangunan aqidah relatif lebih lama dari pada tasyri’ (pembentukan dan penegakan syari’at, yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya). Pembangunan yang paling ideal dan efektif memerlukan figur central yang bisa menentukan perubahan dan diikuti oleh semua pihak. Jalan utama untuk melakukan pembangunan ideologi adalah melalui pendidikan. Tuhan melakukan pendidikan kepada alam semesta sesuai dengan nama dan sifat-Nya yaitu Rabb (Pembimbing dari asal yang paling sederhana menuju kepada kesempurnaan). Rasulullah SAW memberikan pendidikan kepada pengikut-pengikut beliau.

Pendidikan mensyaratkan dua hal yang harus senantiasa dilibatkan, yaitu kesadaran hati nurani dan keaktifan akal. Mengetuk kesadaran hati nurani menjadi sangat penting, karena hatilah yang harus menjadi pengendali pola pikir dan tindakan seseorang, bukan hawa nafsunya. Selanjutnya, keaktifan akal akan berperanan penting untuk menentukan tingkat progresifitas dan kreatifitas yang dihasilkan. Pendidikan akan mencetak seorang cendekiawan (ulil albab) dan menjadi dasar dan seluruh pengajaran berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, ilmu apapun yang dipelajari oleh pelajar harus selalu didasari oleh unsur pendidikan di atas. llmu yang dihasilkan, oleh karenanya, adalah ilmu yang berguna bagi umat, dapat memperkuat keimanan, dapat membangkitkan kesadaran batin, menjadikan manusia lebih manusia, untuk menjadi insan kamil.

Pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pendidikan untuk membangun ideologi. Oleh karenanya, pendidikan ini meliputi bidang formal, informal dan non formal. Tidak boleh dirancukan dengan sistem iptek sebagai sebuah sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga menjadi tonggak kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Selanjutnya pendidikan harus dikembangkan dengan menjadikan akhlaq sebagai ruhnya. Akhlaqlah yang harus menjadi basis dan prioritas utama dalam setiap tindakan pendidikan untuk membentuk cara pandang hidup, cara berpikir dan cara bertindak individu atau umat.

Untuk mendapat gambaran lebih jelas tentang konsep di atas, kita bisa mengambil contoh gerakan reformasi yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1900-an. Gerakan yang beliau lakukan adalah usaha untuk membangun ideologi umat yang didasarkan pada aqidah Islam yang benar. Untuk itu beliau melakukan gerakan pendidikan yang sangat gigih demi mencapai maksud tersebut. Pendidikan yang beliau lakukan didasarkan pada sebuah prinsip pembinaan akhlaq individu maupun umat. Konsep yang beliau tawarkan adalah sebuah konsep ajaran sangat penting yang dimuat dalam al-Qur’an surat al-Ma’un.

Konsep tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: Orang harus menjadikan agama (Islam) sebagai ideologi hidupnya. Ketika orang secara formal mengaku beragama Islam, sementara ia tidak bisa mewujudkan pengakuan tersebut dalam cara pandang, cara berpikir dan cara bertindaknya, maka ia dikatakan mendustakan agama (takdzib bid-din). Pendustaan terhadap ideologi Islam tersebut diindikasikan dengan sikap, pikiran dan tindakan yadu’u al-yatim (menghardik anak yatim), la yahudldlu ‘ala tha‘am al-miskin (menelantarkan orang miskin), ‘an shalatihim sahun (mengabaikan ruh ibadah), riya’ (penuh pamrih) dan yamna‘un al-ma‘un (individualistis dan egoistis). Bagaimana hubungan antara ideologi Islam atau kontra ideologi Islam ini terhadap bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial budaya, hukum dan sebagainya, sudah sangat jelas dan hasilnya pun dapat kita bayangkan.

Dari uraian di atas jelas bahwa kita harus meluruskan kembali arah sistem pendidikan ideologi kita. Untuk itu, kita harus memberikan pendidikan agama yang benar. Mengajarkan agama bukan hanya mengajarkan aspek-aspek ritual, legal formal, seperti yang kita lakukan selama ini. Mengajarkan al-Qur’an, misalnya, umumnya orang tua akan berhenti dan sudah cukup puas ketika anak sudah dapat membunyikan lafaz-lafaz al-Qur’an, tanpa mengerti fungsinya dan apa arti bunyi tersebut. Mengajarkan shalat, cukup jika anak sudah mempraktekkan gerakan shalat tersebut, puasa cukup ketika anak dapat tidak makan dan minum seharian, dan sebagainya. Jarang sekali diajarkan innama al-mu‘minuna ikhwah (setiap mukmin itu bersaudara), la yaskhar qawmun min qawmin (janganlah saling menghina), la ta‘kulu amwaakum bainakum bil bathil (jangan memakan harta dengan cara yang batil), wa la taqrabuz zina innahu kana fahisy’ah (jangan mendekati zina), fi amwalikum haqqun lis-sa‘il (dalam hartamu ada hak orang yang meminta), dan lain sebagainya.

Di samping itu, kita juga kurang efektif dalam menerapkan strategi pendidikan agama. Strategi yang diterapkan sering bersifat parsial-aksidental, pemaksaan, dan diskontinuitas-inkonsistensi. Maksudnya pendidikan agama sering kali hanya untuk bagian-bagian tertentu saja, terjadi pemisahan-pemisahan dan cukup diserahkan pada pihak-pihak tertentu saja serta kadang-kadang hanya bersifat kebetulan. Kedua, cara yang dilakukan bersifat pemaksaan, bukan penyadaran dan pendisiplinan. Ketiga, tidak ada kontinuitas dan kesinambungan dalam melakukan pendidikan dan pendidik kadang-kadang tidak memberikan contoh atau teladan nyata. Untuk itulah, siapapun pendidik agama itu, orang tua, guru (dosen), masyarakat atau pemerintah, harus menggunakan strategi yang efektif yaitu dengan memberikan pendidikan secara total, melakukan penyadaran dan pendisiplinan, upaya yang berkesinambungan serta konsisten. Karena tanpa adanya strategi pendidikan yang mantap dan terarah mustahil kita dapat mencapai tujuan, sementara kita masih dililit persoalan lainnya.

C.  Pengembangan Pendidikan Agama Islam Berbasis Akhlaq

Pendidikan Agama Islam adalah suatu proses penyampaian informasi (berkomunikasi) yang kemudian diserap oleh masing-masing pribadi (internalisasi), sehingga menjiwai cara berpikir, bersikap dan bertindak (individuasi) baik untuk dirinya sendiri maupun hubungannya dengan Pencipta (ibadah) dan hubungannya dengan manusia lain atau masyarakat (sosialisasi) serta makhluk lain dalam lingkungannya maupun alam semesta (kulturisasi-civilisasi), dalam kedudukannya sebagai hamba Allah, khalifah Allah di bumi atau cendekiawan/ulama pelanjut para Nabi. Jadi pendidikan agama Islam adalah suatu proses pembentukan pribadi (akhlak individu) dan masyarakat Muslim (kulturisasi-civilisasi).

Tujuan pendidikan Agama Islam adalah menciptakan manusia yang berakhlak Islam, beriman, bertaqwa dan meyakininya sebagai suatu kebenaran serta berusaha dan mampu membuktikan kebenaran tersebut melalui akal, rasa, feeling di dalam seluruh perbuatan dan tingkah lakunya sehari-hari. Program pendidikan agama Islam berkembang terus, sebagaimana dilambangkan oleh perkembangan lembaganya, yaitu dari lembaga pesantren muncul madrasah, kemudian muncul sekolah Islam dan bahkan perguruan tinggi Islam. Usaha pendidikan yang sudah berjalan sekian abad pasti membutuhkan peninjauan kembali untuk mengadakan penyesuaian dengan tuntutan baru sejalan dengan perkembangan budaya bangsa. Yang dimaksud dengan peninjauan di sini adalah memperbaharui rumusan tujuan strategis dari pendidikan agama Islam di atas.

Pendidikan tidak hanya mengajarkan atau mentransformasikan ilmu dan ketrampilan serta rasa (budaya) atau agama (bagi mereka yang mengambil mata pelajaran agama sebagai bidang studinya), akan tetapi seyogyanya memberi perlengkapan kepada peserta didik untuk mampu memecahkan persoalan-persoalan yang sudah nampak sekarang maupun yang baru akan nampak jelas di masa akan datang, mampu memecahkan persoalan yang dipandang sebagai kewajiban olehnya, baik sebagai profesional yang terikat kepada kode etik profesinya atau karena adanya komitmen batin antara dirinya dengan Allah, penciptanya, maupun sebagai kewajiban kemanusiaan yang secara sadar dan ikhlas memandang usaha tersebut sebagai langkah berguna bagi lingkungannya. Dengan perkataan lain, pendidikan agama Islam harus berorientasi kepada masa yang akan datang (futuristic), karena sesungguhnya peserta didik masa kini adalah bangsa yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda: “Didiklah anak-anak kalian, karena mereka diciptakan untuk zaman mereka sendiri”.

Persoalan-persoalan yang harus dipecahkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat dan warga negara mungkin tidak hanya akan dihadapi satu atau dua kali, tetapi seringkali selama hidupnya Di sinilah antara lain letak pentingnya bahwa ruang lingkup materi pendidikan tidak hanya merupakan perbendaharaan ilmu pengetahuan yang harus dihafalkan (cognitive learning), atau berbagai latihan ketrampilan yang spesifik (psychomotoric training), akan tetapi yang lebih penting bahwa ilmu pengetahuan tersebut disampaikan sedemikian rupa dalam satu susunan yang diproses di dalam otak, sehingga memungkinkan terbentuknya suatu sikap apresiatif dan suatu konsep atau idea tentang masalah dan atau pemecahannya sebagai output (affective and cognitive learning).

Dengan demikian, usaha Pendidikan Agama Islam diproyeksikan kepada:

  1. Membina ketaqwaan dan akhlaqul karimah yang dijabarkan di dalam pembinaan kompetensi enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek keihsanan.
  2. Meningkatkan kualitas kecerdasan dan kemampuan peserta didik dengan proses pemaduan antara dzikir dan tafakkur.
  3. Meningkatkan kualitas hidup insani dengan keseimbangan antara jasmani dan ruhani.
  4. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta manfaat dan aplikasinya.
  5. Memelihara, mengembangkan dan meningkatkan budaya dan lingkungan.
  6. Memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarga, masyarakat, bangsa, sesama manusia dan makhluk lainnya.

Dengan mempertimbangkan proyeksi tersebut di atas, maka penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Islam, khususnya di Perguruan Tinggi Umum, harus diarahkan untuk mencapai tujuan institusional sebagai berikut:

  1. Membina pengertian yang mendalam kepada mahasiswa tentang Islam dan umat Islam, sehingga mahasiswa sedia dan mampu mengabdikan dirinya untuk kepentingan dirinya dan untuk kepentingan Islam selama hidupnya.
  2. Mengarahkan dan memotivasi mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi spesialisasinya atau pilihannya, baik ilmu pengetahuan eksakta maupun sosial, dan selalu mendasarinya dengan nilai-nilai Islam.
  3. Membina pertumbuhan kepribadian mahasiswa yang seimbang melalui perkuliahan Pendidikan Agama Islam lanjutan yang secara khusus memberikan pendidikan/ pembinaan akhlaq.

C.  Penutup

Banyak orang, masyarakat atau bangsa yang berjaya karena progresi politik, ekonomi, atau ilmu pengetahuan, tetapi kemudian jatuh dengan sangat hina karena degradasi akhlaq. Sejarah ribuan tahun umat manusia cukup untuk membuktikannya. Bermodalkan pengalaman dan kesadaranlah kita melakukan pendidikan yang benar.

Leave a Reply

  

  

  

CAPTCHA Image

*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>