Members

Menghidupkan Sunnah

Menghidupkan Sunnah Melalui Pemahaman Hadis
Oleh : M. Subky Hasby, M.Ag.

Dalam rangka rencana besar (grand design) pengembangan spiritual dan peradaban umat manusia yang berbasis akhlak, secara terus-menerus dan silih berganti Allah SWT mengutus para rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Para rasul secara berkesinambungan membenarkan, meluruskan dan menyempumakan risalah agama Allah, hingga akhirnya sampai pada nabi atau rasul penutup, Muhammad SAW, di mana misi risalah tersebut sudah dianggap sempurna (QS. al-Maidah: 3, al-Ahzab: 40). Rasul-rasul tersebut adalah manusia biasa (basyar) yang berasal dari golongan (jenis) manusia itu sendiri (QS. al-Ra’d : 38, al-Furqan: 20).

A. Muhammad SAW: Manusia Biasa yang Istimewa

Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa, seperti halnya manusia-manusia lainnya, bukan superman. Pernyataan ini secara tegas diungkapkan dalam al-Qur’an, “Katakan (hai Muhammad), Sesungguhnya saya hanyalah manusia (basyar/ seperti kalian, yang diberi wahyu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa” (QS. Fushshilat : 6).Manusia dengan kata basyar mengandung makna biologis atau fisik, yaitu manusia yang terdiri dari jasad, darah dan daging; bisa tumbuh, bergerak dan berkembang biak; bisa mengalami kematian, butuh makan dan minum untuk mempertahankan hidup dm sebagainya. Pernyataan ini memiliki maksud sangat penting yaitu jika agama sebagai pembimbing kesempurnaan ruhaniah bisa dicapai oleh Nabi Muhammad yang manusia biasa maka orang lain juga dapat niencapai tingkatan tersebut bila mau mengikuti ajaran dan contoh teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Namun demikian, beliau adalah manusia istemewa dan justru keistimewaan itu terletak pada esensi humanismenya (nilai-nilai kemanusiaannya), yaitu kesempurnaan spiritualitas atau ruhaniah. Inilah makna bahwa beliau “diberi wahyu”. Aspek spiritualitas (ruhaniyah) pada diri beliau lebih tinggi dari pada manusia lainnya yang menjadikan beliau sebagai manusia pilihan. Beliau telah berhasil dengan sempurna membangkitkan aspek spiritualitas tersebut, yang mengangkat derajatnya sebagai manusia istimewa. Sebenarnya aspek spiritualitas inilah yang seharusnya menjadi pilihan dan usaha manusia. Sementara itu, keadaan-keadaan fisik, materiil atau lahiriah hanyalah ketentuan atau taqdir Allah yang tidak menentukan martabat atau kemuliaan manusia di sisi Allah (QS. Al-Hujurat : 13, al-Tin : 46, al-‘Ashr : 2-3).

Yang sangat penting bagi kita adalah bahwa Rasulullah SAW telah membawa segala pesan ilahiyah yang dapat membantu kita untuk mencapai keistimewaan tersebut. Dan apa yang beliau bawa itu adalah sebuah mutiara yang tak ternilai harganya. Apa yang beliau bawa tersebut bukanlah sesuatu yang gratis, semua itu beliau perjuangkan dengan penuh penderitaan, penuh pengorbanan, bersama para sahabat dan pengikut beliau yang setia, demi mengemban pesan ilahiah membimbing umat manusia pada jalan keselamatan. Semua itu dapat kita ketahui dengan sangat jelas dalam sejarah perjuangan Rasulullah menyebarkan Islam yang akhirnya sampai kepada kita saat ini.

Oleh karena itu wajar sekali kalau kita menujukan kecintaan yang besar kepada Rasulullah SAW, bahkan merupakan sebuah keharusan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan seluruh pengikut atau umat beliau bahwa salah satu indikasi keimanan seseorang adalah dengan menunjukkan kecintaan kepada beliau melebihi manusia lain. Dalam sebuah hadis sahih pesan beliau ini sangat tegas, yaitu : “Tidak beriman seorang kamu, hingga ia mencintai aku lebih dari pada kecintaannya kepada ayahnya, anaknya, atau manusia semuanya” (HR. Muslim). Hal ini sama sekali tidak berbau egoistis atau kultus, karena makna kecintaan kepada Rasulullah SAW sama sekali berbeda dengan nilai kecintaan kepada manusia lain. Bahkan Allah SWT menunjukkan pujian kepada diri beliau dan memerintahkan orang Mukmin untuk bershalawat dan memberi salam kepada beliau (QS. al-Ahzab : 56), serta menegaskan bahwa “Nabi itu lebih utama bagi kaum Mukninin daripada diri mereka sendiri” (QS. al-Ahzab : 6).

Bukti kecintaan kita kepada Rasulullah SAW adalah dengan bersetia kepadanya, mengikuti segala tuntunannya dan menghidupkan segala sunnah atau teladan hidupnya. Yang lebih penting lagi adalah kesetiaan mengikuti seluruh langkah dan jejak Rasulullah merupakan tanda bukti ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT, “Katakanlah (hai Muhammad), Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah juga akan mencintai kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian” (QS. Ali Imran : 31), seperti juga perintah-Nya, “Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kalian, maka ambillah dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah “ (QS . al-Hasyr : 7) . Hal ini karena Rasulullah SAW adalah contoh teladan utama bagi umat Islam seluruhnya (QS. al-Ahzab : 21).

B. Warisan Rasulullah SAW

Warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya bukanlah harta benda tetapi sesuatu yang melebihi harta benda sesuatu yang tak ternilai harganya, yaitu agama Islam, jalan terang-benderang yang dapat menjamin kebahagiaan manusia dunia dan akhirat. Ini bukanlah omong kosong atau isapan jempol, tapi dapat dibuktikan dengan fikiran yang jernih. Hal ini sebagaimana ketika Allah mengatakan bahwa al-Qur’an itu la raiba fihi (QS. al-Baqarah : 2). Itu bukanlah dogmatisme, tetapi fakta yang berproses secara historis, di mana sepanjang sejarah banyak orang yang meragukannya namun tidak pernah dapat mernbuktikan keraguan mereka, baik dari segi sejarahnya redaksi dan gaya bahasanya maupun kandungan ilmiahnya. Ketidak raguan kita terhadap teladan Nabi mestinya sama dengan ketidak raguan kita terhadap al-Qur’an, karena Rasulullah SAW tidak bertindak berdasarkan hawa nafsunya tetapi atas bimbingan wahyu Allah yang senantiasa menyinari hidupnya.

Rasulullah SAW meninggalkan dua pusaka pembimbing jalan umat manusia yang merupakan dua sumber ajaran Islam, yaitu : Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul yang terangkum dalam hadis-hadis beliau, sesuai dengan sabda beliau yang terkenal: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selamanya seandainya kalian berpegang teguh pada keduanya.

Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”. Dalam riwayat lain disebutkan : “Aku diberi al-Qur’an dan yang serupa dengannya”.

Ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah kaum Muslimin, segala ucapan, perbuatan dan ketetapan beliau menjadi pedoman dan suri-tauladan bagi shahabat beliau dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik masalah diniyah maupun dunyawiyah. Pada waktu itu, mereka langsung mendapatkan contoh nyata bagaimana menjalankan agama dan bersama mereka Rasulullah mengukir sebuah peradaban dan tadisi baru, yang selanjutnya menjadi panutan bagi seluruh umat Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, semua perkataan, tindakan dan ketetapan beliau itu terus direkam dalam berbagai koleksi dan dilestarikan sebagai khazanah ilmu, yang disebut literatur hadis dan menjadi sumber ajaran kedua bagi umat Islam setelah al-Qur’an.

Segala hal yang berinisial atau diatributkan kepada Rasulullah SAW tersebut merupakan sunnah (tradisi profetik) bagi umat Islam seluruhnya dan diakui sebagai sumber asli dari Islam, yang diwujudkan oleh Nabi SAW sebagai manifestasi dan aplikasi pemahaman beliau terhadap wahyu Allah berupa al-Qur’an. Hal ini tidak pernah diragukan oleh umat Islam dari masa ke masa.

Sunnah yang terjadi selama rentang waktu kehidupan Rasulullah SAW ini dalam beberapa kurun waktu selanjutnya terakumulasi dalam ribuan, bahkan ratusan ribu hadis yang sampai kepada kita pada saat ini. Hal ini tidak mengherankan jika kita memperhatikan cara ulama menghitung hadis. Mereka menghitung hadis berdasarkan jalur periwayatannya. Jika ada satu hadis yang sama atau hampir sama, tetapi melalui 20 jalur periwayatan, maka itu dihitung 20 hadis.

Persoalan yang sangat penting dalam hubungannya dengan warisan Rasulullah ini adalah verifikasi otentisitasnya. Berbeda dengan al-Qur’an yang seluruhnya otentik karena diriwayatkan secara mutawatir dan ditulis sejak masa Rasulullah SAW sendiri serta telah distandardkan, hadis yang sampai kepada kita saat ini sebagian besarnya adalah riwayat ahad (perorangan) dan bil-ma’na bukan bil-lafdz. Dan sebagaimana diketahui dalam sejarah kodifikasi hadis, pernah terjadi gelombang pemalsuan hadis yang cukup besar antara abad pertama dan kedua Hijriah (al-Siba’i, 1368 H, al-Damini, 1984). Oleh karena itu, harus ada pemahaman yang jelas tentang istilah hadis dan sunnah, cara penelitian kualitas hadis, dan cara memahami sunnah yang terkandung dalam sebuah hadis.

C. Hadis dan Sunnah: Persamaan dan Perbedaan

Ada beberapa istilah yang lazim digunakan untuk menyebut tadisi Rasulullah SAW, yaitu al-hadis (ucapan, yang baru), al-sunnah (jalan, tradisi), al-khabar (kabar berita), dan al-atsar (jejak, peninggalan). Istilah-istilah tersebut, meskipun semuanya menunjuk kepada segala hal yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW, dari beberapa segi mempunyai perbedaan.

Jika kita mengambil pendapat umum di katangan muhaddisin, terutama ulama kontemporer kita akan menjumpai bahwa istilah hadis dan sunnah adalah sinonim. Masing-masing bisa dimaksudkan secara bergantian, di mana keduanya berarti penyandaan (isnad) perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat kepada Nabi SAW. Namun demikian, kalau dikembalikan kepada akar kata dan kemunculannya secara historis, akan ditemukan adanya perbedaan antara kedua istilah tersebut.

Kata hadis adalah bentuk masdar dari kata kerja haddasa-yuhaddisu-tahdisan, yang berarti al-khabar (berita/cerita) atau al-ikhbar (memberitakan). Kata ini sudah dikenal oleh bangsa Arab pada masa jahiliah ketika mereka mengucapkan ayyam mereka terkenal dengan nama al-hadis (Subhi al-Shalih, 1988). Bentuk tunggal dari kata hadis adalah uhdusah (menurut qiyas), kemudian dijadikan bentuk jamak untuk lafaz hadis (al-Qasimi, 1979). secara literal, kata hadis berarti komunikasi, cerita atau perbincangan, baik untuk masalah religius atau masalah sekuler, masalah historis (lampau) atau kontemporer (M.M. Azami, 1977). Arti lain dari kata ini adalah al-jadid (yang baru) sebagai lawan dari kata al-qadim (yang dahulu) (M. Ajjaj al-Khatib, 1986). Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-qadim adalah Kitabullah al-Qur’an, sedangkan yang dimaksud dengan al-jadid atau al-hadis adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah SAW (al-Suyuthi, 1972).

Pada mulanya ruang lingkup pengertian hadis hanya terbatas pada aqwal (perkataan), af’al (perbuatan), taqrir (ketetapan) Rasulullah SAW saja. Namun kemudian setelah beliau wafat dan periwayatan hadis semakin luas dari sahabat kepada tabi’in dan seterusnya serta periwayatan bil-ma’na, pengertiannya meluas sampai pada apa yang disandarkan kepada sahabat (Ahmad Amin, 1975).

Adapun kata al-sunnah, secara literal, bermakna jalan, arah, peraturan, mode atau cara tindakan, tradisi atau sikap hidup. Makna-makna tersebut dapat kita lihat dalam sebuah hadis yang berbunyi, Man sanna sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man ‘amila biha, wa man sanna sunnatan sayyi’atan falahu wizruha wa wizru man ‘amila biha (Barang siapa yang mernbuat sunnah yang baik maka baginya ada pahala dan pahala orang yang mengamalkannya, dan siapa yang membuat sunnah yang jelek maka baginya dosa dan dosa orang yang mengamalkannya).

Kata sunnah seringkali dipakai dalam pengertian yang berbeda dalam beberapa disiplin ilmu keislaman; seperti dalam fiqh (disiplin hukum Islam), kata sunnah bermakna suatu praktik religius yang tidak diwajibkan, atau hanya sebatas dianjurkan. Di samping itu, fiqh juga menggunakan istilah sunnah dalam pengertian sebagai salah satu sumber hukum yang empat -menurut madzhab Syafi’i. Ahli ushul fiqh mengartikan sunnah sebagai “apa saja yang keluar dari Nabi SAW selain al-Qur’an berupa ucapan, perbuatan dan taqrir yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar’i (‘Ajjaj al-Khatib, 1963). Sedangkan dalam ilmu kalam (disiplin teologi Islam), kata sunnah dihubungkan dengan Allah dan Rasulullah. Sunnatullah berarti hukum-hukum atau ketentuan Allah yang berlaku secara universal di alam semesta ini. Sedangkan Sunnah Rasulullah memiliki makna prilaku keteladanan Nabi SAW, yang berimplikasi hukum atau praktik keagamaan yang ada contohnya dari Rasulullah (M.M. Azami, 1977). Menurut pengertian terakhir inilah, lawan dari sunnah adalah bid’ah (sesuatu yang baru, yang diada-adakan dalam hal agama), sedangkan lawan dari hadis adalah hadis maudlu’ (suatu riwayat yang dibuat-buat kemudian dinisbatkan kepada Nabi SAW).

Sunnah mempunyai makna teladan kehidupan. oleh karena itu, sunnah Nabi SAW berarti teladan kehidupan yang dicontohkan oleh beliau. Sedangkan hadis mempunyai makna riwayat atau penuturan yang memuat contoh teladan tersebut. Oleh karenanya, kedua istilah tersebut dapat dan sering dipakai secara bergantian, meskipun ada sedikit perbedaan arti di antara keduanya. Sebuah hadis bisa jadi memuat lebih dari satu sunnah atau sebaliknya satu sunnah bisa jadi diungkapkan dalam lebih dari satu hadis. Dengan kata lain, satu hadis bisa mengandung beberapa sunnah, sementara itu beberapa hadis yang lain hanya mengungkapkan satu sunnah saja. Jika hadis adalah umum, yang mencakup ucapan dan perbuatan Nabi SAW, maka sunnah adalah khusus pada amal perbuatan Nabi SAW saja, yang biasanya berimplikasi hukum, sehingga kadang-kadang muncul ungkapan ulama fiqh, “hadis ini bertentangan dengan sunnah, ijma, dan qiyas” atau seperti ucapan Imam Ahmad ibn Hanbal “fi hadza al-hadis khamsu sunnah”, dalam hadis ini terdapat lima buah sunnah (Shubhi al-Shalih, 1988).

Menurut Fazlur Rahman, sementara pada masa hidup Nabi SAW, orang-orang berbicara tentang apa yang dikatakan atau dilakukan oleh beliau -sebagaimana mereka berbicara tentang hal-hal sehari-hari mereka- maka setelah beliau wafat pembicaraan tersebut lalu berubah menjadi suatu fenomena yang disengaja dan penuh kesadaran, karena suatu generasi baru sedang tumbuh yang dengan sewajarnya menanyakan tentang prilaku Nabi SAW. Tetapi haruslah diingat bahwa orientasi keagamaan yang semestinya dari sebuah hadis -suatu transmisi verbal- adalah ke arah norma keagamaan praktis. Orientasi praktis ini, yang lebih dari sekedar keingintahuan intelektual, terutama dalam masyarakat yang sedang berkembang luas dan tumbuh semakin kompleks dengan kecepatan yang mencengangkan dan tanpa preseden, dengan mengasimilasikan unsur-unsur baru, memberikan dasar argumentatif untuk menyatakan bahwa “tansmisi” hadis tersebut lebih bersifat peneladanan langsung tindakan (in actu) tanpa melibatkan rumusan-rumusan verbal. Transmisi non-verbal, atau tradisi “yang diam” atau “hidup” ini, biasanya disebut sunnah (Fazlur Rahman, 1979).

Dengan demikian kita dapat melihat perbedaan yang cukup jelas antara istilah hadis dan sunnah, meskipun keduanya bersifat exchangeable dalam penggunaannya. Kita bisa mengatakan bahwa sunnah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Rasulullah dan berimplikasi hukum atau kita sebut tradisi kehidupan beliau. Sedangkan hadis adalah seluruh rekaman verbal yang memuat sunnah tersebut atau informasi tentang Rasulullah yang sampai kepada kita melalui jalur periwayatan, oleh karenanya dalam hal ini ada persoalan kualitas, yakni valid, cukup baik dan lemah, bahkan palsu, sementara sunnah kualifikasinya hanyalah baik dan harus diikuti. Demikian pula, masih bisa dibenarkan orang-orang yang mempunyai pendirian inkar al-hadis, yakni orang-orang tidak mau mengandalkan hadis karena alasan kualitasnya, tetapi tidak bisa diterima orang-orang yang inkar al-sunnah, yakni menolak atau tidak mau mengakui sunnah.

Sebagai ilustrasi, dapat kita dikemukakan sebuah hadis yang berbunyi, “Nikah ia adalah sunnahku, maka siapa yang membenci sunnahku, ia bukan termasuk umatku’’. Orang  yang membenci sunnah pernikahan serta lebih memilih freesex (misalnya) ia disebut munkir al-sunnah, sedangkan jika seseorang tidak mau menggunakan hadis tersebut sebagai dalil dengan alasan kualitas hadis tersebut lemah setelah dia melakukan penelitian (misalnya). Hanya saja yang perlu dipertanyakan, apakah penelitiannya betul-betul obyektif dan qualified. Jika tidak ia disebut munkir al-hadis.

D. Penelitian Kualitas Hadis

Mengingat bahwa hadislah yang memiliki persoalan kualitas, dan oleh karena pengetahuan tentang kualitas hadis menjadi sangat penting sebab melalui hadislah kita dapat mengamalkan dan menghidupkan sunnah atau tradisi keberagamaan Rasulullah dan para sahabat, maka penelitian hadis juga menjadi hal yang teramat penting. Betapa pentingnya persoalan ini, sehingga Muhammad ibn Sirin, seorang ulama hadis dari kalangan tabi’in, pernah berpesan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka telitilah dari siapa kalian mengambil agama kalian” (Muslim, 1992).

Penelitian hadis yang maksimal dilakukan melalui tiga aspek secara berurutan, yaitu dari segi kualitas rangkaian para penyampainya atau dikenal dengan istilah sanad, dari segi isi atau redaksi informasi hadis atau yang dikenal dengan matan dan dari segi historis atau lebih tepatnya konteks sejarah ketika hadis itu muncul. Yang dimaksud berurutan adalah kualitas hadis yang pertama ditentukan oleh kualitas sanadnya, selanjutnya kualitas matannya dan terakhir kualitas historisnya. Jika hadis tersebut jatuh pada kualifikasi pertama maka sudah tidak berarti pada kualifikasi selanjutnya. Adapun langkah ketiga penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penelitian sanad

Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi informan dari suatu hadis. Ulama hadis menilai bahwa isnad (rangkaian/jalur transmisi hadis) menempati kedudukan yang sangat penting dalam riwayat hadis, sehingga apabila terdapat satu saja dari rangkaian sanad ada yang lemah atau cacat maka ulama hadis akan meninggalkan pengamalan riwayat tersebut. Menurut Ibn al-Mubarak, isnad adalah bagian dari agama, seperti dikatakannya, “Isnad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada isnad niscaya siapapun akan dapat mengatakan apa yang ia inginkan” (Muslim, 1992). Oleh karena itu kritik terhadap sanad dilakukan dengan sangat ketat. Tahap-tahap yang diperlukan dalam penelitian sanad hadis adalah sebagai berikut (M. Syuhudi Ismail, 1992):

a.  Takhrij al-hadis, yaitu penelusuran atau pelacakan hadis pada berbagai kitab hadis yang merupakan sumber asli dari hadis yang diteliti (Mahmud al-Thahhan, 1979). Dalam sumber asli dikemukakan secara lengkap serentetan sanad hadis tersebut. Metode ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul riwayat hadis yang diteliti, untuk mengetahui seluruh perawi hadis dan untuk mengetahui ada atau tidaknya syahid dan muttabi’ pada sanad yang diteliti. Penelusuran ini bisa dengan dua cara yaitu bil-lafzhi (penelusuran melalui kata-kata) dan bil-maudlu’ (penelusuran melalui topik). Perangkat yang dapat digunakan adalah kitab Mu’jam al-Mufahras fi Alfazh al-Hadis dan Kutub al-‘Asyrah (10 kitab hadis sumber).

b.  I’tibar, yaitu menyertakan sanad-sanad lain untuk suatu hadis tertentu dengan demikian akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti, demikian juga nama-nama periwayatnya serta metode periwayatan yang digunakan oleh para periwayat tersebut.

c.  Penelitian pribadi periwayat dan metode periwayatannya. Segi-segi yang diteliti dalam hal ini antara lain: a) kualitas pribadi periwayat, yaitu apakah memenuhi syarat ‘adil (jujur) atau tidak, b) kapasitas intelektual periwayat, apakah memenuhi syarat dlabith (kuat daya ingat) atau tidak, c) ittishal (persambungan sanad atau adanya hubungan guru-murid antara dua mata rantai periwayat), yang bisa diketahui dari lambang-lambang metode periwayatan. Perangkat yang dapat digunakan adalah kitab-kitab Mizan al-I’tidal, Lisan al-Mizan, Tahdzib al-Tahdzib, dan sebagainya.

d.  Pengambilan natijah (kesimpulan hasil penelitian), yaitu dengan diketahuinya derajat hadis, baik shahih, hasan, dla’if, atau bahkan maudlu’.

2. Penelitian Matan

Penelitian matan (isi riwayat atau redaksi hadis) dilakukan dengan tujuan menguji kemurnian redaksi atau kandungan hadis, dan untuk mengetahui ada atau tidaknya syudzudz dan ‘illat (kejanggalan dan cacat). Adapun tahapan-tahapan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a.  Melihat kualitas sanadnya, yakni penelitian dilakukan setelah melakukan tahapan penelitian di atas. Jika sanadnya sudah sangat lemah, maka tidak perlu lagi meneliti matan. Namun tidak semua matan sejalan dengan kualits sanadnya.

b.  Meniliti susunan matan

c.  Meneliti kandungan matan. Ini dilakukan dengan cara membandingkan kandungan matan yang sejalan atau tidak bertentangan. Dalam hal ini, ada tolok ukur kualitas matan yang telah disusun oleh ulama hadis, yang tidak bertentangan dengan : 1) hukum al-Qur’an yang muhkam, 2) hadis mutawatir, 3) hadis ahad yang kualitasnya lebih kuat, 4) akal sehat dan fakta tetap yang teramati, 5) fakta-fakta sejarah, 6) amalan yang menjadi kesepakatan ulama salaf al-shalih.

3. Penelitian latar belakang sejarah

Penelitian latar belakang sejarah, atau menurut istilah Fazlur Rahman historical criticism, ini bertujuan untuk menguji konsistensi periwayatan dan kesesuaiannya dengan fakta sejarah. Pada masa sahabat, hadis-hadis yang disampaikan sangat diwarnai oleh suasana politik dan aliran politik dari para periwayatnya pada waktu itu. Hanya dengan mengetahui suasana politik zaman itu, kita dapat menjelaskan inkonsistensi dalam periwayatan hadis. Sejarah dapat membantu kita untuk menolak, menerima, atau mentarjih hadis (Jalaluddin Rakhmat, 1996). Di samping itu, karena menyimpulkan sunnah dari hadis, maka latar belakang sejarah dari suatu peristiwa menjadi sangat penting. Kita tahu tidak semua berita yang dinisbatkan kepada Nabi SAW menunjukkan sunnah. Para ulama mendefinisikan sunnah sebagai “segala yang bersumber dari Nabi SAW selain al-Qur’an, yang patut dijadikan dalil syar’i”. Anak kalimat terakhir ini menunjukkan pentingnya konteks historis dari hadis, karena seperi diungkapkan Fazlur Rahman, pengambilan sunnah dari hadis adalah hasil pemahaman atau interpretasi.

E. Menghidupkan al-Sunnah dalam Kehidupan

Menghidupkan dan mengamalkan sunnah Rasul adalah bagian sangat penting dalam beragama. Ini sudah dipraktekkan umat Islam sejak generasi para sahabat. Prilaku Nabi SAW, selama hidupnya, terus menerus menjadi perhatian mereka. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi SAW. Nabi SAW berulangkali menyuruh sahabat menirunya. Dalam hal shalat, Nabi SAW bersabda: “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari). Dalam hal berhaji, belau bersabda: “Ambillah dariku manasik kalian” (HR. Muslim). Dalam hal menikah, beliau menegaskan: “Nikah adalah sunnahku. Siapa yang membenci sunnahku ia tidak termasuk golonganku”. Bahkan dalam hal-hal yang berkenaan dengan etika praktis beliau juga memberikan teladan, seperti makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan cara berdiri, berpakaian yang bersih dan sederhana, hidup dengan cara yang sederhana, aturan-aturan memberi salam, dan sebagainya. Semua ajaran-ajaran itu dapat kita jumpai dalam berbagai kitab hadis yang merangkum seluruh tradisi dan prilaku kehidupan beliau.

Misi dari sunnah Rasulullah sejalan dengan misi syari’at Islam yang digambarkan dalam surat al-Maidah ayat 6, “Tidaklah Allah berkehendak untuk mempersulit kalian, tetapi Dia berkehendak untuk mensucikan kalian, melengkapkan nikmat-Nya kepada kalian dan agar kalian menjadi orang-orang bersyukur (berpositive thinking)”. Dari ayat tersebut kita melihat bahwa misi Syari’at Islam ada tiga, yaitu : 1) mensucikan (membentengi dari kekufuran dan kemaksiatan), 2) melengkapkan nikmat sehingga menjadi sempurna, dan 3) membangkitkan kesadaran untuk berterima kasih dan berfikir positif. Tiga misi inilah selalu menjadi karakteristik sunnah Rasulullah, syari’at Islam, agama Islam, bahkan keseluruhan agama Allah yang disampaikan seluruh umat manusia. Oleh karena itu, sunnah Rasulullah SAW memiliki misi suci, karena sebenarnya sunnah tersebut merupakan aplikasi dan aktualisasi dari ajaran-ajaran al-Qur’ an.

Dengan menghidupkan sunnah, sebenarnya kita mengangkat harga diri dan identitas kita sebagai seorang Muslim. Dengan jauh dari sunnah Nabi, maka sebenarnya kita telah mulai menjatuhkan martabat kita, yang mengakibatkan kita kehilangan jati diri dan paradigma islami, sebab akhirnya kita akan mengikuti sunnah yang diciptakan oleh orang-orang non-Islam. Kita bisa memperhatikan bahwa Rasulullah sendiri, sepanjang hidup beliau cenderung membuat sunnah yang menunjukkan perbedaan dengan kaum Yahudi, Nasrani dan kaum Musyrik. Oleh karena itu, kita tidak akan merasa heran mengapa para ulama pada masa penjajahan mengharamkan bantolun (celana panjang) dan dasi yang menjadi ciri khas orang Belanda (kaum kafir).

Dari uraian tentang penelitian hadis di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk melakukan hal tersebut kita harus melalui hadis. Oleh karenanya ketika kita ingin menghidupkan sunnah, kita harus mengambil hadis-hadis yang betul-betul memenuhi kualifikasi shahih atau hasan. Dari hadis yang berkualitas baik (valid) tersebut, selanjutnya kita harus memperhatikan dengan teliti apa saja sunnah yangdikandungnya.

Menurut ulama ushul fiqh, tidak semua hadis mengandung sunnah. Fazlur Rahman menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadis. Ketika terjadi perbedaan paham, maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum, sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma’. Karena sunnah adalah hasil penafsiran, nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur’an (Fazlur Rahman, 1983). Namun demikian kita harus memperhatikan pesan dasar nilai-nilai paradigma Islam yang terkandung dalam hadis, sehingga kita akan dapat mengambil sikap untuk menjadikannya sebagai sunnah yang harus diikuti.

Jika dalam sebuah riwayat hadis disebutkan bahwa seorang sahabat berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW batuk tiga kali setelah takbiratul ihram” dapatkah kita menetapkan prilaku Nabi dalam hadis itu sebagai sunnah? Mungkin kita akan mengatakan tidak, karena perbuatan Nabi itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Tetapi bagaimana pendapat kita bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikan ketika Nabi duduk tasyahhud, “Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdo’a”, Zubair melihat “Nabi SAW memberi isyarat dengan telunjuknya tetapi tidak menggerakkannya” (a1-Syaukani). Bisa saja orang berkesimpulan bahwa memberi isyarat dengan telunjuk ketika tasyahhud itu sama saja dengan batuk tiga kali ketika takbiratul ihram.

Demikian juga dengan prilaku-prilaku lainnya dari Rasulullah SAW, misalnya dalam berbusana, bergaul, berniaga dan sebagainya. Ada orang yang mengambilnya secara persis atau mendekati persis secara tekstual. Ini mempunyai manfaat mendekatkan dan mengingatkan kita selalu kepada pribadi dan prilaku Rasulullah SAW yang dicintai dan diidolakan, serta memperlihatkan suatu sikap kebanggaan dengan perlambang dan identitas Islam yang berbeda dengan perlambang dan identitas orang-orang non-Muslim. Tetapi, juga tidak salah orang yang hanya menangkap dan memahami serta mengambil pesan-pesan moral yang terkandung dalam tradisi-tradisi tersebut. Ini bermanfaat untuk menunjukkan paradigma atau pola berfikir islami yang sarat dengan nilai-nilai luhur universal.

Namun demikian, sikap pertama sering terjebak pada kekakuan, kepicikan dan stagnasi pemikiran serta berbagai kesulitan lainnya karena tidak bisa merespon perkembangan dan kemajuan peradaban. Sementara sikap kedua sering kali menggiring orang semakin jauh dari contoh-contoh nyata yang praktis dan menyurutkan pesan-pesan moral itu sendiri yang lama-kelamaan akan semakin hambar, serta sikap meremehkan terhadap agama jika tidak disertai dengan pengetahuan yang mendalam terhadap kaidah-kaidah agama. Oleh karenanya sikap terbaik adalah memadukan keduanya. Pertama-pertama kita harus memperhatikan prinsip universal dari Islam itu sendiri yang diajarkan oleh Rasulullah, lalu sedapat mungkin kita meniru secara persis prilaku keberagamaan Rasulullah hingga hal-hal praktis, sesuai dengan pemahaman kita terhadap pesan-pesan moralnya dan disesuaikan juga dengan perkembangan zaman di mana kita hidup. Ini untuk menunjukkan bahwa kita bukan hanya sekedar burung beo yang bisa meniru tanpa mengerti apa yang ditiru dan untuk apa meniru.

Bagaimanapun juga, sebagai umat Islam (pengikut Nabi Muhammad SAW), kita tidak boleh jauh dari sunnah-sunnah beliau, kita harus senantiasa menjadikan beliau sebagai figur utama, taladan utama, melebihi siapa saja yang diidolakan orang saat ini dan kapanpun. Kita akan mengalami keruntuhan harga diri sebagai manusia Muslim yang jatuh di bawah bayang-bayang sunnahnya manusia Barat yang non-Islam. Adalah sesuatu yang sangat ironis dan menyedihkan sekali, bagaimana kita bisa bangga dengan sunnah membuka aurat dan meninggalkan sunnah menutup aurat, bangga dengan sunnah pergaulan bebas dan meninggalkan sunnah nikah, bangga dengan sunnah ekonomi kapitalis dan meninggalkan sunnah ekonomi islami.

Daftar Pustaka

Ahmad Amin, Fajr al-Islam (Beirut: Dar al-Kutub al-’Arabi, 1975)

Dalaluddin Rakhmat, “Pemahaman Hadis: Perspektif Historis” dalan Al-Hikmah Vol. VII tahun 1996

—–, “Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya?”, dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, ed. Budhy Munawar-Rachman (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1994)

Fazlur Rahman, Islam (Chicago: Chicago University Press, 1979)

—–; Membuka Pintu ljtihad (Bandung: Pustaka, 1983)

Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi (Madinah: al-Maktabah al-Ilmiyah,1972)

Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979)

Masfar Azmullah al-Damini, Maqayis Naqd Mutun al- sunnah (Riyadh: tp., 1984)

Muhimmad ‘Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabl al-Tadwin (Kairo: Makatabah Wahbah, 1963)

Muhammad Arkoun, Rethinking Islam, trans. Rober D. Lee (San Francisco: Weswiew Press, 1994)

Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 1994)

Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits min Funun Mushthalah al-Hadits (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1979)

Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature (Indianapolis: American Trust Publication, 1977)

Muhammad Syuhudi Ismul, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)

Muhammad Thahir al-Jawabi, Juhud al-Muhaddisin fi Naqd Matn al-Hadits al-Nabawi al-Syarif (tk. : Mu’assasat ‘Abd al-Karim bin ‘Abdillah, 1989)

Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim (Beirut: Dar al-Fikr, 1992)

Musthafa al-Siba’i, Al-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri al-Islami (tk.: Maktabat al-Islami, 1368 H)

Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadis wa Mushthalahuh (Beirut: Dar al-’Ilm lil-Malayin, 1988)

________________

Tulisan dimuat dalam buku Memahami Hakekat Beragama: Membangun Pemahaman Keislaman Inklusif (Malang: PPA UB, 2002) hal. 36.

Leave a Reply

  

  

  

CAPTCHA Image

*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>