Members

Membangun Paradigma Islam

Membangun Paradigma Islam di Tengah Perkembangan Masyarakat Global
Oleh : M. Subky Hasby, M.Ag.

 A. Pendahuluan

Sains dan teknologi yang telah berkembang dengan sangat pesatnya di dunia Barat saat ini telah menimbulkan berbagai perubahan dan pergeseran yang luar biasa, tidak hanya di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, tetapi juga telah merambah bidangfilsafat dan agama, sehingga mengakibatkan globalisasi yang tidak lagi memperhatikan sentrisme tertentu (Aziz Azmeh, 1993).

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah rangkaian tak terpisahkan dari berbagai sistem kehidupan lainnya yang menunjang kemajuan dalam suatu peradaban. Namun sebagai salah satu aspek penunjang kemajuan dan moderrnisasi ia tidak netral dan bukan berarti tidak punya ekses-ekses negatif bagi kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi hanyalah alat bagi manusia yang bisa digunakan untuk membangun ataupun merusak (ishlah atau ifsad), sehingga tidak ada alasan untuk menolak atau menghindarinya.

Yang menjadi masalah adalah bahwa setiap sistem ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh setiap peradaban tidak pernah bebas nilai (S.H. Nasr, 1995). Ia mempunyai epistemologi dan aksiologinya sendiri sesuai dengan paradigma yang berkembang dalam sistem global peradaban tersebut (M. Arkoun, 1986, 1994). Pengembangan ilmu pengetahuan yang bersifat radics dan reductionic (mendalam sampai ke akar-akarnya) dan prinsip art for art seringkali menimbulkan pertentangan dengan nilai-nilai agama, sebab siapa saja bisa mengembangkan apa saja demi memenuhi hasrat keingin-tahuannya, tanpa memikirkan apa dan bagaimana jadinya.

Modernisasi dengan segala kemajuannya ternyata mempunyai dampak sangat buruk, terutama bagi masyarakat Muslim yang belum betul-betul siap dengan segala perangkatnya (M. Amin Abdullah, 1995). Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun perangkat epistemologi dan aksiologi ilmu pengetahuan yang didasarkan pada ruh Islam, yang akan membentuk paradigma pemikiran islami di tengah perkembangan masyarakat jagad (global) saat ini.

B. Paradigma Pemikiran yang Mendominasi Masyarakat Dunia Saat Ini

Menurut M. Abid al-Jabiri, secara historis hanya ada 3 peradaban atau bangsa yang memiliki tradisi berpikir logic yang cukup kuat, yaitu Yunani (hellenism), Arab dan Barat Modern. Sementara bangsa-bangsa lainnya, seperti Persia, India, Tiongkok dan sebagainya dianggap/dikenal sebagai peradaban yang mengembangkan tradisi mystic (al-Jabiri, 1991). Kejayaan dan keruntuhan masing-masing peradaban telah terjadi silih berganti. Ketika yang satu mengalami kepunahan, segera akan diwarisi dan diambil alih oleh bangsa lain dengan peradaban yang baru lagi. Setiap peradaban yang berjaya era itu tentu juga membawa paradigmanya yang sekaligus mendominasi bangsa-bangsa lainnya.

Apa yang dimaksudkan sebagai paradigma adalah mode of thought yang mendasari keseluruhan hidup seseorang, masyarakat atau suatu bangsa. Kalau kita mau mengakui secara jujur, sesungguhnya sistem global yang mendominasi masyarakat dunia di abad modern saat ini adalah sistem yang lahir dan mengkristal dari paradigma filsafat Barat Modern. Menurut Nurcholish Madjid (1995), dengan tibanya zaman ini, umat manusia tidak lagi dihadapkan pada persoalan lokal kultural secara terpisah dan berkembang secara otonom dari yang lain, tetapi terdorong untuk membaur ke dalam masyarakat jagad (global).

Karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat, maka modernisasi sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa Barat), tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik nol. Jadi, bangsa-bangsa bukan Barat pada permulaan proses perkembangannya terpaksa harus menerima paradigma modernitas Barat. Hal ini disebabkan karena adanya sistem global, yang di dalamnya terdapat sistem-sistem kehidupan, seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya dan ilmu pengetahuan, yang saling kait-mengkait dan mempengaruhi satu sama lain; dan semuanya terpola menuju terbentuknya masyarakat jagad (global society).

Kini sudah menjadi klise untuk mengatakan bahwa kita hidup di abad informasi. Penemuan microchip dan –sebagai akibatnya– perkembangan teknologi komputer mikro, telah menimbulkan kekuatan yang memungkinkan diperolehnya informasi hanya dengan sentuhan sebuah tombol. Terdapat konsensus yang luas bahwa teknologi komputer yang secara tak terelakkan akan memberi bentuk baru masa depan umat manusia, mengharuskan kita mendefinisikan kembali kegiatan kerja dan waktu santai; dan dalam jangka panjang, mengharuskan kita melakukan redefinisi terhadap pemikiran dan ilmu pengetahuan. Masa depan yang dimaksudkan itu, menurut Ziauddin Sardar (1992), akan tercipta melalui penggabungan dua bidang yang sebelum ini terpisah, tetapi yang sekarang sedang dalam proses melebur: komputer dan telekomunikasi.

Umat Islam sendiri dalam merespons modernitas atau modernisasi yang semakin menggurita di atas paradigma pemikiran Barat ini terpecah ke dalam beberapa pola pemikiran dan kecenderungan. Pertama, kecende- rungan kepada aliran-aliran pemikiran baru yang bersifat teologis, yang kemudian mengkristal menjadi aliran-aliran fundamentalisme, messianisme, modernisme dan tradisionalisme, yang seperti yang dikembangkan oleh Muhammad Abduh, Sayyed Hossein Nasr, dan lain-lain. Kedua, kecenderungan pada pemikiran Islam yang bersifat historis, yaitu usaha membongkar (dekonstruksi) pemikiran klasik dan membangunnya kembali (rekonstruksi) dengan berbagai pendekatan filsafat dan ilmu-ilmu sosial modern (sejarah, sosiologi, antropologi, ilmu politik, ekonomi, linguistik/semiotika, dsb.) atau yang lebih dikenal dengan istilah proyek teoretisasi pemikiran Islam, seperti yang digeluti oleh Mohammad Arkoun, Hassan Hanafi, Muhammad Abid al- Jabiri dan lainnya. Ketiga, kecenderungan untuk melakukan islamisasi pengetahuan modern (islamization of knowledge), seperti yang telah dikembangkan oleh Ismail Razi al-Faruqi, Abu Baker A. Bagadeer, Ziauddin Sardar dan kawan-kawan (M. Amin Abdullah, 1996).

Sebagai agama, Islam masih hidup dan bertahan, tetapi peradaban dengan seluruh sistemnya telah surut dan tersingkir dari berbagai arah selama beberapa abad. Struktur sosial dunia Islam, termasuk institusi- institusi politik, ekonomi dan budaya menghadapi tekanan sangat kuat, karena dirusak atau ditransformasikan oleh dominasi peradaban Barat modern. Dengan dominasi sistem global peradaban Barat tersebut dan laju modernisasi, lalu timbullah berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam (S.H. Nasr, 1995).

Abad modern, dengan segala prediketnya: abad ilmu, abad teknologi, abad komputerisasi, abad informasi, dengan paradigma pemikiran Barat yang mendasarinya sama sekali bukanlah rahmat. Bagi masyarakat Barat, ia telah menghasilkan sejumlah besar problem, yang pemecahan terhadapnya terbukti tumpul. Bagi dunia Muslim, revolusi informasi menghadirkan tantangan-tantangan khusus yang harus diatasi demi kelangsungan hidup fisik maupun budaya umat. Tidak jarang tantangan-tantangan itu merupakan dilema utama: haruskah negeri-negeri Muslim menganut suatu teknologi yang kompulsif dan totaliter, dengan resiko timbulnya tipe kebergantungan baru yang lebih subversif serta menghancurkan; atau haruskah mereka melestarikan sumber daya mereka yang langka dan bernilai dan mengabaikan perkembangan-perkembangan teknologi informasi, dengan resiko menyerahkan kendali atas nasib mereka sendiri kepada tangan- tangan Barat? (Z. Sardar, 1992)

C. Reorientasi dan Rekonstruksi Paradigma Pemikiran Islam

Tiga aspek pada diri manusia yang memerlukan pembinaan terus menerus, yaitu fisik (materiil), intelektual dan spiritual. Keutuhan jati diri manusia diukur dari ketiga aspek tersebut. Jika mereka mengalami kekurangan atau mengabaikan salah satu dari tiga aspek tersebut, maka artinya mereka mulai mengalami dehumanisasi (kehilangan nilai-nilai kemanusiaan). Menurut istilah al-Qur’an mereka dikatakan lafi khusrin, asfala safilin, kal-an’am dan sebagainya. Manusia yang utuh (seutuhnya) itulah yang dimaksud dengan insan kamil, yaitu mereka yang bisa mengembangkan 3 aspek kemanusiaannya tersebut secara seimbang, mengetahui di mana mereka harus berpijak.

Paradigma berpikir yang dikembangkan Barat saat ini, menurut Muhammad Arkoun (1994), telah gagal membimbing cita-cita humanisme umat manusia. Modernisasi di Barat cenderung mengarah kepada terbentuknya masyarakat sekuler. Harvey Cox (1965) pernah memprediksikan bahwa modernisme dan modernisasi hanya akan menciptakan secular city; ia adalah lonceng kematian bagi agama. Menurut teori ini, semakin modern suatu masyarakat, semakin jauh pula mereka dari agama; agama diprediksikan tidak akan pernah bangkit lagi dalam arus modernisasi dan sekularisasi yang tidak terbendung. Dengan kata lain, modernisme di samping sangat mengagulkan kemajuan materiil dan intelektual, juga punya kecenderungan kuat untuk menghilangkan atau mematikan spiritualitas.

Sejalan dengan pendapat Cox tersebut adalah teori Sigmund Freud tentang agama. Dengan teori psikoanalisisnya, Freud mengatakan bahwa saat ini bukan lagi masa agama. Masa agama sebenarnya adalah the childhood of man dalam tulisannya yang berjudul an illusion, di mana menurutnya masa anak-anak adalah masa khayal, masa yang penuh dengan ilusi karena ketidak-mampuan manusia dalam memahami hakikat alam lingkungannya (Daniel L. Pals, 1996). Seperti juga dikatakan oleh Peter L. Berger (1967), seorang sosiolog agama, bahwa sikap sekularis seringkali timbul sehubungan dengan penolakan terhadap campur tangan aturan- aturan agama.

Jadi paradigma pemikiran Islam sebenarnya harus diorientasikan untuk membangun manusia seutuhnya (insan kamil). Manusia seutuhnya ini — dalam aktualisasinya– diberi prediket muttaqin, yaitu orang-orang yang senantiasa menyerahkan diri kepada Allah dan melakukan kebajikan- kebajikan di dunia, baik secara individual maupun sosial (QS. 2 : 2-5) dan dalam paradigma berpikirnya diberi prediket ulul albab, yaitu orang-orang yang senantiasa hanya menggantungkan dan menautkan hatinya kepada Allah dalam keadaan apapun dan senantiasa menggunakan atau mengoptimalkan akal pikirannya untuk menggali ilmu pengetahuan yang dapat membangkitkan kesadaran ilahiyah (QS. 3 : 190-191). Allah mengajarkan umat Islam untuk membangun paradigmanya melalui al-Qur’an.

Al-Qur’an memberikan teladan masa lalu dan proyeksi masa depan. Al- Qur’an memberikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip nilai yang bersifat transformatif dan reformatif. Makna transformatif dan reformatif tersebut tercermin dalam konsep al-Qur’an tentang masyarakat yang moderat/ ummatan wasathan (QS. 2 : 143), yang harus selalu menjadi saksi (syuhada) bagi umat manusia seluruhnya. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang harus dijalankan. Syarat utama dalam hal ini adalah bahwa kita harus selalu menggunakan hati nurani dan akal pikiran dalam pola berpikir, bersikap dan bertindak. Hati dan akallah yang harus mengendalikan pandangan hidup kita. Hati dan akal hanya boleh pasrah dan tunduk kepada petunjuk Allah, baik yang tekstual maupun kontekstual, baik qur’aniyah maupun kauniyah; sama sekali tidak boleh ditundukkan atau dikendalikan oleh hawa nafsu.

D. Membangun Komitmen Kesadaran Islami

Pemikiran dan kesadaran adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain secara inter-dependensi. Pemikiran di sini bukan hanya yang bersifat tertulis, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu yang tak tertulis namun dapat terbaca, bukan hanya hasil-hasil (product) pemikiran, tetapi juga metode-metode berpikir. Penelaahan “pemikiran” yang akhirnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan epistemologis telah dilakukan melalui teori-teori ilmu-ilmu mutakhir. Oleh karenanya, ia bersifat konseptual. Sementara “kesadaran” adalah bersifat aktual, karena adanya kesadaranlah maka kita akan dapat mengaktualisasi paradigma pemikiran kita, menentukan langkah-langkah strategis untuk sikap-sikap dan tindakan yang harus diambil.

Dengan demikian, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membangun komitmen pada kesadaran pemikiran Islam. Kesadaran pemikiran islami, menurut Muhammad Arkoun, adalah suatu tinjauan historis dan kritis atas jalur perkembangan kesadaran itu dengan bertolak dari tuntutan-tuntutan dan pengungkapannya yang paling akhir. Yang dibutuhkan untuk suatu perkembangan kesadaran pemikiran islami sehingga menjadi kesadaran modern yang sebenarnya, bukanlah “destruksi” wacana islami kontemporer— yakni penolakan wacana itu karena dianggap sebagai wacana yang bodoh, salah dan terbelakang— melainkan “dekonstruksi” sekaligus “rekonstruksi”. Tinjauan kritis dan historis terhadap kesadaran islami ini akhirnya harus memungkinkan penciptaan suatu kesadaran modern dari perspektif teoretis— yakni sesuai dengan kesadaran ilmiah mutakhir— dan dari perspektif praktis —yakni sesuai dengan kebutuhan praktis masyarakat Muslim kontemporer.

Kita harus bisa memahami manfaat dan mudarat modernisasi dengan segala kemajuannya, serta secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan “kita”, dan bukan tujuan-tujuan “mereka” (orang-orang Barat). Secara ideal kita harus mengembangkan kecakapan khas dalam menciptakan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kendatipun demikian, segala jenis teknologi hadir dengan perangkap ideologis dan kultural dari peradaban yang melahirkannya, ia pun bisa diubah dan dimodifikasikan sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan. Manakala kita terpaksa harus memanfaatkan teknologi yang ada, maka ia harus dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan- keperluan kita.

Namun demikian, kita harus mengembangkan dan menerapkan suatu strategi yang menyeluruh, matang dan jelas, untuk menghadapi tantangan- tantangan abad informasi. Strategi demikian tentu harus mencakup pemahaman tentang sifat informasi maupun visi mengenai masyarakat yang hendak kita ciptakan.

E. Penutup

Tantangan-tantangan teknologi informasi yang baru harus dihadapi bukan dengan optimisme maupun pesimisme yang berlebihan, tetapi dengan tindakan penuh pertimbangan. Satu hal yang paling penting dimiliki oleh setiap orang atau bangsa dalam rangka mengembangkan kehidupannya secara ideal adalah memahami dan mengerti siapa dirinya (hakikat kemanusiaannya) dan kemudian mengembangkannya dengan penuh kearifan hati nurani dan akal pikiran yang sehat dengan bimbingan hidayah ilahi.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Baker A. Bagadeer (ed.), Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, terj. Machnun Husein (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996) Aziz Al-Azmeh, Islams and Modernities (London: Verso, 1993)

Berger, Peter L., The Sacred Canopy : Elements of a Sociological Theory of Religion (New York: Doublday, 1967)

Budhy Munawar-Rachman, “Filsafat Islam”, Rekonstruksi dan renungan Religius Islam, ed. Muhammad Wahyuni Nafis (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1996)

Cox, Harvey, The Secular City : Ubanization and Secularization in Theological Perspective (New York: MacMillan, 1965).

Hassan Hanafi, “Perlunya Oksidentalisme”, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5 dan 6, Vol. IV tahun 1994

Meuleman, Jhohan Hendrik, “Riwayat Hidup dan Latar Belakang Mohammed Arkoun”, Nalar Islami dan Nalar Modern: Tantangan dan Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: INIS, 1994)

Muhammad Abid al-Jabiri, Takwin al-’Aql al-Arabi (Beirut: al-Markaz al-Saqafi al-’Arabi, 1991)

M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

M. Amin Rais, Cakrawala Islam : Antara Cita dan Fakta (Bandung: Mizan, 1991)

Muhammed Arkoun, Târîkhiyât al-Fikr al-’Arabi al-Islâmi (Beirut: Markaz al- Anma’ al-Qawmi, 1986)

———, al-Fikr al-Islâmî: Naqd wajtihâd (Beirut: Dar al-Saqi, 1990)

———, Nalar Islami dan Nalar Modern: Tantangan dan Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: INIS, 1994)

———,”Metode Kritik Nalar Islam”, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5 dan 6, Vol. IV tahun 1994

Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995)

Pals, Daniel L., Seven Theories of Religion (Oxford: Oxford University Press, 1996)

Sayyed Hossein Nasr, Menjelajah Dunia Modern : Bimbingan untuk Kaum Muda Muslim, terj. Hasti Tarekat (Bandung: Mizan, 1995).

Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21 : Menjangkau Informasi, terj. A.E. Priyono dan Ilyas Hasa (Bandung: Mizan, 1992)

______________

Tulisan pernah dimuat dalam Jurnal Wahana Akademika Kopertais Wilayah X Jawa Tengah di Semarang, Volume 8, Nomor 2, Agustus 2006, hal. 351-358.

Leave a Reply

  

  

  

CAPTCHA Image

*

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>